<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/7851441250180451763?origin\x3dhttp://oliviamanda.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
  home     about     words     follow  

posted on Selasa, 21 Mei 2013

katanya girl on fire? kok nangis? :))))
"se fire-fire-nya fire tetep butuh air kok vi, air mata :)" - Aulia Kusumaningtyas ({})

21 Mei 2013, 16:16
semenit yang lalu, aku berpikir untuk menghapus beberapa rubbish words disini. beberapa postingan sebelum ini? atau postingan sebelum ini, mungkin? :)))
mungkin setelah membaca semua yang ada disini, kamu ilfeel membaca kata-kata-sok-bijak-ku.
atau malu, mungkin? 

tapi lima menit kemudian aku berpikir untuk tetap membiarkan semua yang ada disini seperti sedia kala. seperti apa yang seharusnya ada dari awal. dengan tidak mengubahnya.
iya. aku memang bukan manusia yang pakem, as you said.

tapi lalu aku akan berjanji pada diriku sendiri.
untuk lebih diam. untuk memilih tidak berbicara apapun saat kondisimu seperti tadi. untuk tidak mempunyai niat menenangkanmu karena akan menjadi kata-kata sokku itu.
untuk tidak pernah melingkarkan lenganku padamu. bahkan untuk menjadi isyarat bahwa aku nyaman. tapi itu aku, bukan kamu. karena aku tau, itu harga dirimu. aku tau seberapa memalukan itu.


seharusnya tidak seperti itu. seharusnya kamu tidak mengatakan itu :)

Label:

← backwards • layout by lemoncontinue →